WELCOME!

WELCOME STALKERS ! HAPPY READING ^^

Minggu, 08 Mei 2016

Lewat Puisi Cinta



 Inikah Cinta yang mulai terasa ada ?
Tak ku sangka semua tlah beranjak beda,
Aku mencintainya dalam diam dan tanpa alasan,
Namun semakin lama pilu itu semakin terasa,

Bait puisi indah itu muncul dalam buku harian Nadine, remaja cantik syair dan musik. Usianya yang menginjak 18 tahun membuat dirinya menjadi lebih aktif dalam berbagai hal, terutama musik. Bahkan untuk masuk ke perguruan tinggi Nadine sudah memiliki Beasiswa di Sekolah Tinggi Seni di Jakarta.
Pagi itu di SMA Budi Bangsa, tempat Nadine bersekolah. Dia memiliki sahabat karib bernama Raya. Persahabatannya dimulai sejak duduk dibangku TK. Saat itu...
“Ehh, Nad. Udah tau belum kalo di sekolah kita hari ini ada murid baru, dan denger denger dia itu cowok loh!” Seru Raya sambil meletakkan tangannya di pundak Nadine.
“Haduuuhh, nih orang ya, baru dateng langsung deh yang dibahas cowok mulu..aaiisshh” Kata Nadine sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
Selang beberapa detik, Bu Peggy masuk.
“Selamat pagi anak-anak, hari ini kita kedatangan murid baru dari Bandung. Ayo  silahkan perkenalkan diri kamu” Kata Bu Peggy sambil tersenyum.
“Halo, Nama saya Kevin, saya murid pindahan  dari Bandung, semoga kalian bisa berteman dengan saya. Terimakasih”
“Oke kevin, kamu bisa duduk disana. Dan anak-anak mari kita mulai pelajaran hari ini.”  Kevin duduk tepat disamping Nadine, yang sontak membuat Raya langsung mengejek sahabatnya itu.
“Eh, Nad. Ajak kenalan gih cepetan...!!!!” Seru Raya, berbisik.
“Sssttt...apaan sih, itu Bu Peggy lagi ngasih materi ntar kalo kita ketahuan ngobrol kena hukum!” Nadine, dengan nada pelan setengah ketakutan.
“Apaan sih, kan cuma kenalan doang, bilang aja kalo kamu malu..ihihi..ciyee, si Nadine malu-malu.”
“Enggak ihh, apaan sih, Ray. Cukup...sssttt...”
“Hey, kalian berdua Nadine, Raya! Berdiri !”
“Tuh khan, apa aku bilang....”
“Kalian berdua, keluar dari kelas saya dan lari mengelilingi lapangan, sekarang juga!!” Perintah Bu Peggy, dengan nada membentak.
“Baik, bu...” Jawab Nadine dan Raya bersamaan, mereka pun lari mengelilingi lapangan dengan muka melas dan kesal.
“Kamu sih, Ray. Jadi lari-larian begini nih deh kita.” Kata Nadine, ngos-ngos an.
“Iya maaf, yaudah..kamu tunggu sini ah, biar aku yang beli minum.”
“Oke deh, cepetan yaa.”
Beberapa menit kemudian.....
“Nih...” bayangan seseorang di belakang Nadine, sambil menodorkan minuman dan sapu tangan.
“Ehh, kog cepet baa...nget, Ray..loh kog kamu ?” Kata Nadine, Kaget. Karena seseorang itu adalah Kevin. Sambil memberi senyum simpulnya Kevin duduk di samping Nadine.
“Iya, maaf aku lancang, soalnya aku liat kamu kepanasan banget, yaudah kebetulan aku bawa air, nih..buat kamu aja. Oiya, aku Kevin. Kamu Nadine khan ?” Kata Kevin sambil, memberikan tangannya untuk bersalaman.
“Hah..dia tau nama aku? Kog bisa?” Tanya Nadine dalam hati.
“Ehhhmm...Iya, aku Nadine, kog kamu bisa tau ?”
“Rahasia..Yaudah aku pergi dulu yah, jangan lupa diminum, bye Nadine.” Ucap Kevin sambil tersenum lebar dan berlalu.
Raya yang semenjak tadi melihat Nadine dan Kevin yang sudah akrab menjadi heran, dia pun langsung menghampiri sahabatnya itu.
“Nad, tadi itu kevin khan ? kamu bilang kamu belum pernah kenal dia, kenapa dia tiba-tiba langsung ngasih tuh air mineral buat kamu?” Tanya Raya, dengan nada penasaran.
“Tauuukk ahh, aku capek mau ke kelas dulu yah, bye Raya....” KataNadine sambil tersenyum.
“Ehhh Nadine, tunggu dulu..jelasin dulu...Nadine..” Raya mengejar Nadine ang terlihat malu dan salahtingkah sejak tadi.
            Setelah kejadian itu hubungan antara Nadine, Raya dan Kevin menjadi lebih akrab. Mereka sering menghabiskan waktu bersama.
            Siang itu, Di taman sekolah...
            “Hai Kev, ini sapu tangan kamu, makasih ya, dan maaf baru aku kembalikin hari ini.” Kata Nadine, dengan malu-malu.
            “Oh, Kamu Nad. Iya sama-sama, gapapa kog. Oh iya Nad, kamu bisa nggak ngeluangin waktu kamu sebentar aja hari ini buat aku?” Tanya Kevin.
            “Ehhmm..memangnya ada apa yah ?”
            “Pulang sekolah kita bareng yah, ada hal penting yang pengen aku omongin sama kamu.” Kata Kevin dengan nada serius.
            “Tapi khan kita biasana emang pulang bareng, sama Raya juga khan?”
            “Kali ini beda, aku pengen kita berdua aja, dan aku juga udah bilang ke Raya kog, kalo hari ini kita pulang bareng.”
            “Oh, gitu..i.iyaa deh, yaudah aku ke kelas dulu ya..bye.”
            “Sampai Nanti Nadine!!“ Seru Kevin dengan tersenyum tipis bahagia.
            Sepulang sekolah Nadine dan Kevin bertemu di persimpangan jalan dekat gerbang sekolah. Saat itu Nadine berada di seberang jalan karena ia baru saja dari perpustakaan untuk meminjam buku-buku sebagai bahan belajarnya. Kevin melambaikan tangannya pada Nadine. Namun, tiba-tiba......
            “Brakkkkkkkkk.....”
            Mobil dengan kecepatan tinggi datang menuju arah Nadine. Dan seketika itu pula tubuh Nadine terpental dan langsung berlumuran darah di kepala, hidung, dan sekujur tubuhnya. Kevin panik, dan langsung membawa Nadine ke Rumah Sakit. Kevin sangat terpukul, Raya yang mengetahui kabar tersebut menjerit dan menangis sejadi-jadinya. Kevin merasa dia-lah penyebab kecelakaan itu terjadi.
            “Ini salah aku, Ray. Salah aku!! Aaaaaaarrrrgghh!!” Kevin menangis, dan membentur-benturkan kepalanya ke dinding Rumah Sakit.
            “Enggak Vin, enggak..ini kehendak Allah, kita hanya bisa berdo’a untuk kesembuhan Nadine saat ini.” Kata Raya, menenangkan.
            Dokter keluar dari ruang ICU. Nadine kritis, dan yang lebih menyakitkan, Nadine lumpuh. Karena benturan yang keras di bagian tulang kakinya. Kevin merasa tak berdaya lagi. Gadis yang dicintainya kini harus duduk di kursi roda. Dan mengalami koma. Bahkan untuk mengungkapkan perasaannya pun tak tersampaikan. Kevin menyesal karena selama ini hanya bisa memendam dan mengagumi Nadine dari jauh, tanpa bisa menjaga, juga memilikinya.
            Satu, dua, tiga bulan berlalu...
            Keadaan Nadine masih sama, terbaring lemah di Rumah Sakit. Kevin lah yang selama ini merawatnya, menjaganya, dan bahkan memberikan syair-syair indah untuk Nadine. Kevin percaya, bahwa keajaiban Tuhan akan datang. Dan Sedang menunggu keajaiban itu.
            Tepat 158 hari, Nadine terbangun dari tidur panjangnya. Dia membuka matanya perlahan. Jari-jemarinya mulai bergerak sedikit demi sedikit. Dan di sampingnya terlihat Kevin yang memegang tangannya dengan erat.
            “Kev...in...” Mulutnya terbata-bata.
            “Nadine, kamu udah sadar Nad, sebentar yah aku panggil dokter dulu. Dokter..Dokter!!”
            Dokter datang dan memeriksa Nadine.
            “Alhamdulillah, Nadine sudah melewati masa kritisnya, selamat ya, Nadine.” Kata Dokter dengan wajah sumringah.
            Kevin sangat lega mendengarnya, Kevin langsung memeluk Nadine dengan perasaan penuh haru dan bahagia. Pujaan hatinya kini telah kembali.
            Keesokan harinya Kevin mengajak Nadine untuk jalan-jalan. Nadine tahu bahwa kakinya memang sudah tak berfungsi lagi, ia menerimanya dengan pasrah dan lapang. Nadine sangat berterimakasih pada Kevin yang selama ini benar-benar menjaga dan melindunginya.
            “Vin, makasih banget ya, aku nggak nyangka kamu bisa sepeduli ini sama aku.”
            Kevin menghentikan kursi roda Nadine. Menatap Nadine dengan sayang.
            “ Justru aku yang berterimakasih sama kamu, karena kamu udah berhasil ngelewatin masa sulit kamu, dan akhirnya memberi aku kesempatan untuk melihat senyum kamu lagi.” Kata Kevin dengan penuh ketulusan. “Oh iya, ini buat kamu...” menyodorkan sebuah kertas berwarna merah hati untuk Nadine.
            “Apa ini ?” Tanya Nadine
            “Buka aja Nad, itulah rahasia aku kenapa aku bisa mencintai kamu sampai saat ini.” Kata-kata Kevin membuat hati Nadine berdebar sekaligus berbunga bunga. Nadine membuka perlahan. Sebuah puisi indah yang tak asing baginya.

MENCINTA DALAM DIAM
Aku mencintaimu tanpa sebab,
Ku merindukanmu tanpa alasan kuat,
Untukmu sebuah harap yang bergejolak hebat,
Mengiringi setiap detik nafas berhias kalbu,
Elok ku rasa dentingan asa berbalut Cinta,
Naungan cakrawala itu mempertemukan antara kita,
Cerita berkarisma seakan menguncinya,
Inikah rasa yang semakin indah dan merajalela,
Nian terasa berbeda saat semua rindu mulai menjelma,
Teriakkan sebuah keajaiban bergemilang senja,
Aku merasakan hasrat yang luar biasa padanya,
Inikah Cinta yang mulai terasa ada ?
Tak ku sangka semua tlah beranjak beda,
Aku mencintainya dalam diam dan tanpa alasan,
Namun semakin lama pilu itu semakin terasa,
Pepatah gila mulai menghampiri segala sukma,
Aku tak berdaya dengan apa yang seharusnya tak ada,
Aku memilih untuk tak mengungkapkan walaupun terasa sesak di dada,
Sembunyikan sebuah rasa yang kini ku pendam dalam diam,
Angin lalu biarlah menjadi kelabu berlalu bersamamu,
Namamu satu yang akan menjadi cinta tanpa suara kalbu.
           
            “Ini khan, puisi aku..loh kog kamu ?” Tanya Nadine dengan kebingungan.
            “Iya Nad, itulah rahasiaku...aku udah lama mengagumi kamu, dan aku dateng waktu kompetisi Lomba Puisi tingkat SMA tahun lalu, disitulah aku mulai jatuh cinta sama kamu Nad. Bagi aku, kamu nggak hanya sebagai seorang penyair, tapi kamu juga penyihir yang mempunyai mantra cinta untuk aku.” Gombalan Kevin yang panjang lebar itu membuat Nadine tersipu malu, dan tertawa kecil.
            “Aaakkhh...aku baru inget! Kamu yang nolongin aku waktu itu khan?” Tanya Nadine, sambil mengingat sesuatu.
            “Iya, waktu itu kamu dateng agak telat, terus kamu nyuruh aku buat nganterin kamu, pake panggil aku ‘Abang Tukang Ojek’ lagi...ahahaha.”
            “Haahahaha...maaf..maaf, aku itu nggak tau beneran Vin, sumpah, haha..tapi mirip kog kayak Abang-abang ojek..hahaha.” Nadine tertawa lepas. Kevin terus memegang tangan Nadine dengan erat, seakan tak mau kehilangan orang yang sangat berharga untuknya lagi.
            “Dan yang harus kamu tau aku sayang kamu tulus Nad, Ijinkan aku untuk menjaga kamu, aku nggak ingin hanya mencintai kamu dalam diam, aku ingin mencintai kamu dengan sederhana, dengan ketulusanku..dan aku...” “Ssssttttt....” Sahut Nadine.
            “Aku tahu, dan aku juga sayang kamu kog Vin, makasih ya selama ini udah mau ngejaga aku, selalu ada buat aku, dan aku pengen kita bisa ngelewati semuanya bareng-bareng.” Sahut Nadine, dengan lembut. Membalas semua kalimat indah yang di ungkapkan oleh Kevin padanya. Mereka berdua tersenyum bahagia, dan memulai segalanya dari awal. Menjalin sebuah asmara yang saling melengkapi.
Kita tak akan pernah tau kepada siapa hati ini akan berlabuh, dan kepada siapa kalbu ini bermuara. Karena pada akhirnya Tuhanlah yang akan menentukan untuk siapa pintu hati kita ini terbuka.
–The End-

Tidak ada komentar: