Inikah Cinta yang mulai terasa ada ?
Tak ku sangka semua tlah beranjak
beda,
Aku mencintainya dalam diam dan
tanpa alasan,
Namun semakin lama pilu itu semakin
terasa,
Bait puisi indah itu muncul dalam buku
harian Nadine, remaja cantik syair dan musik. Usianya yang menginjak 18 tahun
membuat dirinya menjadi lebih aktif dalam berbagai hal, terutama musik. Bahkan
untuk masuk ke perguruan tinggi Nadine sudah memiliki Beasiswa di Sekolah
Tinggi Seni di Jakarta.
Pagi itu di SMA Budi Bangsa, tempat
Nadine bersekolah. Dia memiliki sahabat karib bernama Raya. Persahabatannya
dimulai sejak duduk dibangku TK. Saat itu...
“Ehh, Nad. Udah tau belum kalo di
sekolah kita hari ini ada murid baru, dan denger denger dia itu cowok loh!”
Seru Raya sambil meletakkan tangannya di pundak Nadine.
“Haduuuhh, nih orang ya, baru dateng
langsung deh yang dibahas cowok mulu..aaiisshh” Kata Nadine sambil
menggeleng-gelengkan kepalanya.
Selang
beberapa detik, Bu Peggy masuk.
“Selamat pagi anak-anak, hari ini kita
kedatangan murid baru dari Bandung. Ayo
silahkan perkenalkan diri kamu” Kata Bu Peggy sambil tersenyum.
“Halo, Nama saya Kevin, saya murid
pindahan dari Bandung, semoga kalian
bisa berteman dengan saya. Terimakasih”
“Oke kevin, kamu bisa duduk disana. Dan
anak-anak mari kita mulai pelajaran hari ini.” Kevin duduk tepat disamping Nadine, yang
sontak membuat Raya langsung mengejek sahabatnya itu.
“Eh, Nad. Ajak kenalan gih
cepetan...!!!!” Seru Raya, berbisik.
“Sssttt...apaan sih, itu Bu Peggy lagi
ngasih materi ntar kalo kita ketahuan ngobrol kena hukum!” Nadine, dengan nada
pelan setengah ketakutan.
“Apaan sih, kan cuma kenalan doang,
bilang aja kalo kamu malu..ihihi..ciyee, si Nadine malu-malu.”
“Enggak ihh, apaan sih, Ray. Cukup...sssttt...”
“Hey, kalian berdua Nadine, Raya!
Berdiri !”
“Tuh khan, apa aku bilang....”
“Kalian berdua, keluar dari kelas saya
dan lari mengelilingi lapangan, sekarang juga!!” Perintah Bu Peggy, dengan nada
membentak.
“Baik, bu...” Jawab Nadine dan Raya bersamaan,
mereka pun lari mengelilingi lapangan dengan muka melas dan kesal.
“Kamu sih, Ray. Jadi lari-larian begini
nih deh kita.” Kata Nadine, ngos-ngos an.
“Iya maaf, yaudah..kamu tunggu sini ah,
biar aku yang beli minum.”
“Oke deh, cepetan yaa.”
Beberapa
menit kemudian.....
“Nih...” bayangan seseorang di belakang
Nadine, sambil menodorkan minuman dan sapu tangan.
“Ehh, kog cepet baa...nget, Ray..loh kog
kamu ?” Kata Nadine, Kaget. Karena seseorang itu adalah Kevin. Sambil memberi
senyum simpulnya Kevin duduk di samping Nadine.
“Iya, maaf aku lancang, soalnya aku liat
kamu kepanasan banget, yaudah kebetulan aku bawa air, nih..buat kamu aja. Oiya,
aku Kevin. Kamu Nadine khan ?” Kata Kevin sambil, memberikan tangannya untuk
bersalaman.
“Hah..dia tau nama aku? Kog bisa?” Tanya
Nadine dalam hati.
“Ehhhmm...Iya, aku Nadine, kog kamu bisa
tau ?”
“Rahasia..Yaudah aku pergi dulu yah,
jangan lupa diminum, bye Nadine.” Ucap Kevin sambil tersenum lebar dan berlalu.
Raya yang semenjak tadi melihat Nadine
dan Kevin yang sudah akrab menjadi heran, dia pun langsung menghampiri
sahabatnya itu.
“Nad, tadi itu kevin khan ? kamu bilang
kamu belum pernah kenal dia, kenapa dia tiba-tiba langsung ngasih tuh air
mineral buat kamu?” Tanya Raya, dengan nada penasaran.
“Tauuukk ahh, aku capek mau ke kelas
dulu yah, bye Raya....” KataNadine sambil tersenyum.
“Ehhh Nadine, tunggu dulu..jelasin
dulu...Nadine..” Raya mengejar Nadine ang terlihat malu dan salahtingkah sejak
tadi.
Setelah kejadian itu hubungan antara
Nadine, Raya dan Kevin menjadi lebih akrab. Mereka sering menghabiskan waktu
bersama.
Siang itu, Di taman sekolah...
“Hai Kev, ini sapu tangan kamu,
makasih ya, dan maaf baru aku kembalikin hari ini.” Kata Nadine, dengan
malu-malu.
“Oh, Kamu Nad. Iya sama-sama, gapapa
kog. Oh iya Nad, kamu bisa nggak ngeluangin waktu kamu sebentar aja hari ini
buat aku?” Tanya Kevin.
“Ehhmm..memangnya ada apa yah ?”
“Pulang sekolah kita bareng yah, ada
hal penting yang pengen aku omongin sama kamu.” Kata Kevin dengan nada serius.
“Tapi khan kita biasana emang pulang
bareng, sama Raya juga khan?”
“Kali ini beda, aku pengen kita
berdua aja, dan aku juga udah bilang ke Raya kog, kalo hari ini kita pulang
bareng.”
“Oh, gitu..i.iyaa deh, yaudah aku ke
kelas dulu ya..bye.”
“Sampai Nanti Nadine!!“ Seru Kevin
dengan tersenyum tipis bahagia.
Sepulang sekolah Nadine dan Kevin
bertemu di persimpangan jalan dekat gerbang sekolah. Saat itu Nadine berada di
seberang jalan karena ia baru saja dari perpustakaan untuk meminjam buku-buku
sebagai bahan belajarnya. Kevin melambaikan tangannya pada Nadine. Namun,
tiba-tiba......
“Brakkkkkkkkk.....”
Mobil dengan kecepatan tinggi datang
menuju arah Nadine. Dan seketika itu pula tubuh Nadine terpental dan langsung
berlumuran darah di kepala, hidung, dan sekujur tubuhnya. Kevin panik, dan
langsung membawa Nadine ke Rumah Sakit. Kevin sangat terpukul, Raya yang
mengetahui kabar tersebut menjerit dan menangis sejadi-jadinya. Kevin merasa
dia-lah penyebab kecelakaan itu terjadi.
“Ini salah aku, Ray. Salah aku!! Aaaaaaarrrrgghh!!”
Kevin menangis, dan membentur-benturkan kepalanya ke dinding Rumah Sakit.
“Enggak Vin, enggak..ini kehendak
Allah, kita hanya bisa berdo’a untuk kesembuhan Nadine saat ini.” Kata Raya,
menenangkan.
Dokter keluar dari ruang ICU. Nadine
kritis, dan yang lebih menyakitkan, Nadine lumpuh. Karena benturan yang keras
di bagian tulang kakinya. Kevin merasa tak berdaya lagi. Gadis yang dicintainya
kini harus duduk di kursi roda. Dan mengalami koma. Bahkan untuk mengungkapkan
perasaannya pun tak tersampaikan. Kevin menyesal karena selama ini hanya bisa
memendam dan mengagumi Nadine dari jauh, tanpa bisa menjaga, juga memilikinya.
Satu, dua, tiga bulan berlalu...
Keadaan Nadine masih sama, terbaring
lemah di Rumah Sakit. Kevin lah yang selama ini merawatnya, menjaganya, dan
bahkan memberikan syair-syair indah untuk Nadine. Kevin percaya, bahwa
keajaiban Tuhan akan datang. Dan Sedang menunggu keajaiban itu.
Tepat 158 hari, Nadine terbangun
dari tidur panjangnya. Dia membuka matanya perlahan. Jari-jemarinya mulai
bergerak sedikit demi sedikit. Dan di sampingnya terlihat Kevin yang memegang
tangannya dengan erat.
“Kev...in...” Mulutnya terbata-bata.
“Nadine, kamu udah sadar Nad,
sebentar yah aku panggil dokter dulu. Dokter..Dokter!!”
Dokter datang dan memeriksa Nadine.
“Alhamdulillah, Nadine sudah
melewati masa kritisnya, selamat ya, Nadine.” Kata Dokter dengan wajah
sumringah.
Kevin sangat lega mendengarnya,
Kevin langsung memeluk Nadine dengan perasaan penuh haru dan bahagia. Pujaan
hatinya kini telah kembali.
Keesokan harinya Kevin mengajak
Nadine untuk jalan-jalan. Nadine tahu bahwa kakinya memang sudah tak berfungsi
lagi, ia menerimanya dengan pasrah dan lapang. Nadine sangat berterimakasih
pada Kevin yang selama ini benar-benar menjaga dan melindunginya.
“Vin, makasih banget ya, aku nggak
nyangka kamu bisa sepeduli ini sama aku.”
Kevin menghentikan kursi roda
Nadine. Menatap Nadine dengan sayang.
“ Justru aku yang berterimakasih
sama kamu, karena kamu udah berhasil ngelewatin masa sulit kamu, dan akhirnya
memberi aku kesempatan untuk melihat senyum kamu lagi.” Kata Kevin dengan penuh
ketulusan. “Oh iya, ini buat kamu...” menyodorkan sebuah kertas berwarna merah
hati untuk Nadine.
“Apa ini ?” Tanya Nadine
“Buka aja Nad, itulah rahasia aku
kenapa aku bisa mencintai kamu sampai saat ini.” Kata-kata Kevin membuat hati
Nadine berdebar sekaligus berbunga bunga. Nadine membuka perlahan. Sebuah puisi
indah yang tak asing baginya.
MENCINTA DALAM DIAM
Aku mencintaimu tanpa sebab,
Ku merindukanmu tanpa alasan kuat,
Untukmu sebuah harap yang bergejolak
hebat,
Mengiringi setiap detik nafas
berhias kalbu,
Elok ku rasa dentingan asa berbalut
Cinta,
Naungan cakrawala itu mempertemukan
antara kita,
Cerita berkarisma seakan
menguncinya,
Inikah rasa yang semakin indah dan
merajalela,
Nian terasa berbeda saat semua rindu
mulai menjelma,
Teriakkan sebuah keajaiban
bergemilang senja,
Aku merasakan hasrat yang luar biasa
padanya,
Inikah Cinta yang mulai terasa ada ?
Tak ku sangka semua tlah beranjak
beda,
Aku mencintainya dalam diam dan
tanpa alasan,
Namun semakin lama pilu itu semakin
terasa,
Pepatah gila mulai menghampiri
segala sukma,
Aku tak berdaya dengan apa yang
seharusnya tak ada,
Aku memilih untuk tak mengungkapkan
walaupun terasa sesak di dada,
Sembunyikan sebuah rasa yang kini ku
pendam dalam diam,
Angin lalu biarlah menjadi kelabu
berlalu bersamamu,
Namamu satu yang akan menjadi cinta
tanpa suara kalbu.
“Ini khan, puisi aku..loh kog kamu
?” Tanya Nadine dengan kebingungan.
“Iya Nad, itulah rahasiaku...aku
udah lama mengagumi kamu, dan aku dateng waktu kompetisi Lomba Puisi tingkat
SMA tahun lalu, disitulah aku mulai jatuh cinta sama kamu Nad. Bagi aku, kamu
nggak hanya sebagai seorang penyair, tapi kamu juga penyihir yang mempunyai
mantra cinta untuk aku.” Gombalan Kevin yang panjang lebar itu membuat Nadine
tersipu malu, dan tertawa kecil.
“Aaakkhh...aku baru inget! Kamu yang
nolongin aku waktu itu khan?” Tanya Nadine, sambil mengingat sesuatu.
“Iya, waktu itu kamu dateng agak
telat, terus kamu nyuruh aku buat nganterin kamu, pake panggil aku ‘Abang
Tukang Ojek’ lagi...ahahaha.”
“Haahahaha...maaf..maaf, aku itu
nggak tau beneran Vin, sumpah, haha..tapi mirip kog kayak Abang-abang
ojek..hahaha.” Nadine tertawa lepas. Kevin terus memegang tangan Nadine dengan
erat, seakan tak mau kehilangan orang yang sangat berharga untuknya lagi.
“Dan yang harus kamu tau aku sayang
kamu tulus Nad, Ijinkan aku untuk menjaga kamu, aku nggak ingin hanya mencintai
kamu dalam diam, aku ingin mencintai kamu dengan sederhana, dengan
ketulusanku..dan aku...” “Ssssttttt....” Sahut Nadine.
“Aku tahu, dan aku juga sayang kamu
kog Vin, makasih ya selama ini udah mau ngejaga aku, selalu ada buat aku, dan
aku pengen kita bisa ngelewati semuanya bareng-bareng.” Sahut Nadine, dengan
lembut. Membalas semua kalimat indah yang di ungkapkan oleh Kevin padanya.
Mereka berdua tersenyum bahagia, dan memulai segalanya dari awal. Menjalin
sebuah asmara yang saling melengkapi.
Kita tak akan
pernah tau kepada siapa hati ini akan berlabuh, dan kepada siapa kalbu ini
bermuara. Karena pada akhirnya Tuhanlah yang akan menentukan untuk siapa pintu
hati kita ini terbuka.
–The End-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar